Jalan Kaki “Nyeker” (Grounding): Bisakah Membantu Tidur Lebih Nyaman?

07 October 2026
Administrator
Jalan Kaki “Nyeker” (Grounding): Bisakah Membantu Tidur Lebih Nyaman?
Tidur cukup tidak selalu berarti tidur berkualitas. Ada orang yang sudah berbaring selama berjam-jam, tetapi tetap sulit terlelap, sering terbangun, atau merasa kurang segar ketika bangun pagi.

Selain dipengaruhi pola tidur, konsumsi kafein, paparan layar, stres, dan kondisi kesehatan, kualitas tidur juga berkaitan dengan kemampuan tubuh untuk beralih dari keadaan aktif menuju keadaan yang lebih tenang.

Salah satu aktivitas yang mulai banyak dibicarakan untuk mendukung relaksasi adalah grounding atau berjalan tanpa alas kaki di atas permukaan alami. Namun, benarkah grounding dapat membuat tidur lebih nyenyak?

Apa Itu Grounding?
Grounding atau earthing dilakukan dengan membiarkan kulit bersentuhan langsung dengan permukaan alami, seperti tanah, rumput, atau pasir.

Praktik ini sering dikaitkan dengan teori bahwa kontak langsung dengan bumi dapat mengubah potensial listrik tubuh. Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya perubahan kelistrikan tubuh ketika seseorang terhubung dengan tanah. Namun, kaitannya dengan kualitas tidur dan kesehatan masih terus diteliti.

Grounding juga tidak hanya melibatkan kontak dengan bumi. Saat melakukannya, seseorang biasanya berjalan perlahan, berada di ruang terbuka, mengatur napas, dan melepaskan perhatian dari pekerjaan maupun layar. Gabungan aktivitas tersebut dapat membantu tubuh memasuki suasana yang lebih rileks.

Mengapa Grounding Mungkin Membantu Tidur?
Tubuh membutuhkan masa peralihan sebelum tidur. Jika pikiran masih sibuk, tubuh tegang, atau perhatian terus menerima rangsangan dari telepon genggam, proses untuk terlelap dapat menjadi lebih sulit.

Berjalan santai di atas rumput atau pasir dapat menjadi bagian dari rutinitas untuk memperlambat aktivitas. Sensasi permukaan di bawah telapak kaki membuat perhatian kembali pada tubuh dan keadaan saat ini.

Berada di luar ruangan juga memberi kesempatan untuk bergerak ringan dan beristirahat dari paparan layar. Ketika dilakukan dengan tenang, aktivitas ini mungkin membantu mengurangi ketegangan sehingga tubuh terasa lebih siap untuk beristirahat.

Namun, rasa rileks tersebut belum tentu hanya berasal dari perpindahan elektron antara bumi dan tubuh. Gerakan ringan, udara terbuka, suasana alam, dan kesempatan mengambil jeda juga dapat ikut berperan.

Apa yang Ditemukan dalam Penelitian?
Salah satu penelitian awal melibatkan 12 orang yang mengalami gangguan tidur, nyeri, dan stres. Selama delapan minggu, peserta tidur menggunakan alas konduktif yang dihubungkan ke tanah.

Penelitian tersebut melaporkan perubahan pada pola kortisol malam hari dan perbaikan keluhan tidur berdasarkan laporan peserta. Namun, karena jumlah pesertanya sangat sedikit dan tidak menggunakan kelompok pembanding yang memadai, hasilnya belum cukup untuk membuktikan bahwa grounding secara langsung memperbaiki kualitas tidur.

Studi lain pada pasien Alzheimer ringan melibatkan 22 peserta, tetapi hanya 15 orang yang menyelesaikan penelitian. Peserta melakukan grounding menggunakan alas khusus selama 30 menit, lima kali seminggu, selama 12 minggu.

Kelompok grounding menunjukkan perbaikan skor kualitas tidur dibandingkan kelompok sham grounding. Meskipun menggunakan kelompok pembanding, jumlah peserta yang menyelesaikan penelitian masih sangat kecil dan hasilnya hanya berasal dari kelompok pasien tertentu. Karena itu, hasilnya belum dapat diterapkan kepada semua orang.

Temuan tersebut menunjukkan adanya potensi yang menarik, tetapi penelitian dengan jumlah peserta lebih besar masih diperlukan untuk memastikan manfaat serta mekanisme grounding terhadap tidur.

Apakah Grounding Dapat Mengatasi Insomnia?
Grounding belum dapat disebut sebagai pengobatan insomnia. Sulit tidur dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk stres, gangguan kecemasan, konsumsi kafein, jadwal tidur yang tidak teratur, penggunaan gawai, efek obat, dan kondisi medis tertentu.

Karena itu, berjalan tanpa alas kaki sebaiknya ditempatkan sebagai kegiatan pendamping untuk membantu relaksasi, bukan sebagai satu-satunya cara mengatasi gangguan tidur.

Jika sulit tidur terus berulang, berlangsung dalam waktu lama, atau mulai mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, penyebabnya perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Cara Mencobanya dengan Aman
Pilih permukaan alami yang bersih dan aman, seperti rumput, tanah, atau pasir. Pastikan tidak terdapat pecahan kaca, benda tajam, serangga, atau permukaan yang terlalu panas.

Berjalanlah secara perlahan selama beberapa menit sesuai kenyamanan. Simpan telepon genggam, rasakan pijakan kaki, dan atur napas tanpa terburu-buru.

Tidak ada durasi grounding yang terbukti paling efektif untuk membuat tidur lebih nyenyak. Karena itu, tidak perlu memaksakan diri melakukannya terlalu lama. Orang yang memiliki luka, gangguan keseimbangan, atau berkurangnya kemampuan merasakan nyeri pada kaki perlu lebih berhati-hati.

Tetap Bangun Kebiasaan Tidur yang Baik
Grounding akan lebih bermakna apabila menjadi bagian dari rutinitas sehat. Tetap usahakan tidur dan bangun pada waktu yang sama, batasi kopi menjelang malam, kurangi penggunaan gawai sebelum tidur, dan ciptakan kamar yang gelap, tenang, serta nyaman.

Jalan kaki “nyeker” mungkin membantu sebagian orang merasa lebih rileks sebelum beristirahat. Namun, manfaat tersebut tidak perlu disebut sebagai keajaiban.

Terkadang, tidur yang lebih nyaman dimulai dari hal sederhana: memperlambat langkah, melepaskan perhatian dari layar, menikmati suasana alam, dan memberi tubuh waktu untuk benar-benar beristirahat.
Bagikan Artikel Ini